oleh Katon Bagaskara
Di bayang wajahmu
Kutemukan kasih dan hidup
Yang lama lelah aku cari
Dimasa lalu
Kau datang padaku
Kau tawarkan hati nan lugu
Selalu mencoba mengerti
Hasrat dalam diri
Kau mainkan untukku
Sebuah lagu tentang negeri di awan
Dimana kedamaian menjadi istananya
Dan kini tengah kaubawa
Aku menuju kesana
Ternyata hatimu
Penuh dengan bahasa kasih
Yang terungkapkan dengan pasti
Dalam suka dan sedih
selain lagu berjudul "Usah Kau Lara Sendiri" yang menjadi favorit saya karena lirik yang sederhana namun terasa hangat memeluk, satu lagu dari Katon Bagaskara ini juga menyentuh hati saya. sebuah lagu dengan lirik sederhana namun mengungkap hati yang sangat bahagia kala menemukan seorang pasangan hidup sejati yang tepat. sebuah kerinduan yang masih belum saya dapatkan jawabannya hingga kini.
saya menonton Kick Andy 28 maret 2014, dimana seorang gadis cilik tuna netra menyanyikan lagu ini dengan style berbeda. saya mendengar dengan setetes air jatuh dari mata. lagu ini begitu syahdu ia nyanyikan (check out by this site http://www.youtube.com/watch?v=OnUqFBSJNMQ). beberapa perasaan merasuk hati saya, sesak mendengarnya. entah mengapa.
Sabtu lalu sahabat saya sedari kecil, Putri, melangsungkan pernihakan suci. saya tak habis pikir dan hanya dapat berterimakasih pada sang Pembuat Skenario, bagaimana saya bisa berada di Pekanbaru, kota dimana sahabat saya melangsungkan pernikahan, tepat seminggu sebelum acara. sebelumnya saya sudah pesimis dapat hadir dalam acara sakral ini karena saya masih di Surabaya, tp ternyata bukan hanya hadir, saya bahkan ikut terlibat sebagai pendamping pengantin. what a lovely :*
saya telah mengikuti beberapa pemberkatan nikah dan resepsi adat. salah duanya adalah sepupu saya, dan dalam acara keduanya saya ikut terharu saat sesi sungkeman. saya sudah antisipasi dengan membawa tisu yang banyak saat ibadah pemberkatan nikah sahabat saya ini. ternyata ibadah berlangsung hikmat dan syahdu, sehingga belum ada air mata yang menetes saat pemberkatan.
usai pemberkatan di gereja, kami beralih menuju gedung resepsi, dimana kami tentunya akan lebih berbahagia dan bersukacita di gedung karena disanalah kami akan berpesta. nyatanya disinilah air mata kecil-kecil membasahi pipi, saat prosesi adat dilangsungkan diiringi sajak dan prolog berbahasa jawa yang khas oleh sesepuh yang mengiringi jalannya acara. saat sahabat saya digiring oleh pakde (panggilan saya thd papanya Putri), menuju panggung tempat pengantin putri dan kakung bertahta. saat sahabat saya dan suaminya sungkem dengan kedua pihak orang tua. saat sahabat saya duduk dengan sang suami di tahta pengantin putri dan kakung. saya senyum dari jauh, sambil air mata tak tahan untuk keluar. banyak perasaan bercampur, dan membuat dada sesak, terharu.
ketika ada kesempatan bagi saya untuk memberikan suara terbaik yang bisa saya beri bagi sahabat saya, saya maju dan menyanyikan lagu ini diiringi adik terkasih. lagu ini selalu membuat saya haru, entah mengapa, bahkan saat latihan di rumah bersama adik saya, rasanyapun ingin menangis. tak pernah suara saya tak bergetar saat menyanyikan lagu ini, terlebih saat di panggung. saya sudah antisipasi untuk tidak cengeng di panggung, tapi semua tak dapat ditahan. boro-boro menyanyi dengan merdu dan indah, yang ada suara saya jadi fals dan bergetar saat menyanyi. sambil sekali mengusap mata dan mengipas2 mata berharap air yang keluar segera mengering tanpa perlu jatuh. sahabat saya, di depan sana, sudah dipersunting orang, percaya tidak percaya rasanya. tapi di akhir saya dapat menyanyikan kembali dengan lebih baik, dan menuntaskannya.
sahabat kecil yang dulu selalu tidur berdua, saling menginap (dimana kebanyakan saya yang menginap di rumahnya), main sepeda sampai hitam legam yang tak pernah kami permasalahkan, berseluncur di kamar mandi yang licin karena kami penuhi dengan sabun, berkali-kali melewatkan liburan bersama ke Sumbar dan mengunjungi sanak keluarganya, dan begitu banyak memori lain, seakan tumpah saat itu melalui iringan lagu ini (bahkan saat saya mengetik ini, mata saya masih berkaca-kaca). dia masih sahabat saya, masih menjadi 'mbak' bagi saya, masih sahabat kecil saya, masih Putri Kristianningrum saya. dan lagu ini, masih menjadi lagu paling romantis yang akan saya nyanyikan kembali kelak, saat saya berada di panggung pengantin putri dan kakung saya sendiri.