Hai..
Kawan, pernahkah kau mengalami tingkah laku Tuhan dalam
hidupmu? Aku baru saja menyadarinya akhir2 ini. malahan kupikir aku
telat menyadarinya.
Semua berawal dari kisah awal tahun yang begitu mengesankan. Seolah Tuhan benar-benar
pegel dan
ingin turun tangan langsung untuk menyentil anak gadisnya yang bandel
ini. hihihi. Iya, saya bandel. Selama pulang ke rumah, dalam hitungan 14
hari, mungkin hanya 2 hari saja saya benar-benar saat teduh. Oh, 3! 3
kali. Yang terakhir saya lakukan bersama sahabat saya dan keluarganya,
keluarga saya juga :)
Dari sebuah pengalaman luar biasa
menaiki maskapai penerbangan nomor satu di Indonesia dalam perjalanan
kembali dari Pekanbaru (rumah tempat saya tinggal hampir seumur hidup)
menuju Surabaya (tempat saya merantau yang sebetulnya adalah kampung
halaman saya sendiri. Ah.. ya begitulah). Dalam perjalanan dari Jakarta
(transit) hingga Surabaya, saya dipertemukan Tuhan dengan sepasang opa
oma yang memang rutin melakukan perjalanan Jakarta-Surabaya, selain
untuk pelayanan, juga karena anak bungsu mereka sudah tinggal menetap di
Jakarta. Kami bercakap dan sharing dalam suasana yang hangat, terlebih
setelah kami tahu bahwa kami sama-sama percaya Kristus, dan banyak hal
lain yang membuat kami sama, termasuk bahwa kami sama-sama bergereja di
GKI (beliau GKI Diponegoro dan saya GKI Ressud). Saya pikir hal inilah
yang mengunci ke
clickan saya dengan beliau.
Sepanjang
45-55 menit kami bercakap dalam pesawat, tibalah kami di Surabaya nan
terik namun mendung saat itu, 4 Januari 2014, pukul 12.45. Berawal dari
pertanyaan hangat yang menanyakan bagaimana saya kembali ke kosdengan
jawaban saya yang (mungkin bagi mereka) cukup kasihan, saya kemudian
ditawari untuk diantar oleh beliau. Awalnya saya menolak, akan tetapi
beliau terus mengajak dan terus berusaha membuat saya menurunkan
kesungkanan saya dengan mengatakan “tak apa, yang antar kan supir saya”,
akhirnya saya ikut pulang dengan tujuan diantar sampai TP supaya saya
bisa menyambung taksi ke kosdgn ongkos lebih irit. Rencana berubah saat
lingkaran angka waktu mampir padapukul 13.15. Karena beliau ternyata ada
janji di rumah, saya diajak beliauuntuk ikut ke rumahnya dulu, kemudian
akan diantarkan supir lagi sekalian antar barang pesanan ke daerah
Arjuno (saya kurang tau dimana itu).
Saya menurut,
karena saya menumpang. Setibanya di rumah beliau di Surabaya Barat,
terus terang saya agak takjub dengan kondisinya. Keluarga ini begitu
diberkati melimpah, tetapi kesederhanaan dan kebaikan hati mereka yang
menyentuh sampai saya, membuat saya tidak menyangka bahwa orang seperti
mereka akan begitu baik pada saya yang baru 2-3 jam lalu mereka kenal di
dalam pesawat, seorang gadis dengan pasangan
ngumbel yang baru
mereka lihat 2-3 jam lalu di pesawat. Well, saya takjub. Belum cukup,
saya dibuat takjub lagi. Saya disuguhi minuman mahal oleh mereka.
Minuman coklat Swiss asli yang bagi seorang anak kos pas-pasan itu sudah
mewah. Belum lagi saya
disangoni beberapa banyak bungkus Oats dan 1 benda ajaib yang ini sangat luar biasa, Buku Renungan untuk 1 tahun!!
MEEEENNN!!! Siapa yg gak klepek2 sama Papi Je kalo kayak gini?
Selanjutnya,
saya pulang. Ditambah lagi, saya diantar sampai kos ternyata. Karena
opa tadi menanyakan kos saya dimana, dan ternyata tidak terlalu jauh
dengan TP, jadi sekalian saja diantar sampai kos. Saya tak berhenti
mengucapkan banyak terima kasih untuk opa dan oma tersebut, dan terlebih
kepada Bapa saya, Tuhan Yesus saya, untuk 1 hari luar biasa bagi saya.
Doa
saya sebelumnya sehingga hal ini terjadi yaitu saya rindu supaya saya
bisa memiliki relasi yang lebih dekat dengan Tuhan. Saya mau kembali
bertekun dalam waktu teduh. Tetapi ternyata Ia jaaauuh lebih rindu pada
saya, dan bahkan menyediakan sarana secara cuma-cuma supaya saya bisa
lebih dekat dengannya. Ia sampai merayu saya dengan sebuah buku renungan
untuk setahun, dan inilah yang Tuhan kerjakan secara nyata bagi saya.
Cerita kedua.
Ceritanya banyak meen, gue rapel aja. Hihi
Pernahkan
kawan, kau merasa bahwa Tuhan Yesus begitu dekat denganmu, di
sebelahmu, sedang duduk bersamamu, sedang ikut menemanimu saat kau
memasak, saat kau mencuci bajumu, menjemur, menyapu, bepergian,
menonton, atau apa saja dalam hidupmu? Saya baru-baru ini belajar lagi
untuk merasakan Tuhan secara lebih nyata dalam kehidupan saya.
Ini
adalah minggu-minggu berat bagi saya dan momongan saya, skripsi. Sudah
setahun saya membesarkannya, namun belum juga ia mau lepas dari saya.
Saya harus membentuknya sedemikian rupa supaya ia bisa lepas dari saya,
mandiri, dan…
yudadababaiiii…. Alhasil saya masih terus berkutat
dengan benda keramat tersebut (keramat, soalnya kalo gak ada ini gak
bisa lulus men). Dan bulan-bulan ini saya mengejar sebisa saya untuk
membuat kemajuan berarti. Akan tetapi namanya manusia, jenuh, kantuk,
malas, dan bla bla bla itu selalu menghiasi perilaku mereka.
Beberapa malam belakangan, saya kalau tidur sembarangan (maksudnya tidur asal
nggeletak dikasur, bukan tidur sembarangan depan rumah oraaanggg.. woooo), tiba-tiba saya bisa batuk sampai
nggogok,
batuk yang dalam dan sulit berhenti, lalu jantung berdetak sangat kuat
dan cepat, disertai tangan tremor dan ujung jari yang dingin. Saya
pikir, saya hampir mati Tuhan. Saya coba tidur lagi, batuk lagi, begitu
terus sampai akhirnya saya terjaga. Kalau sudah terjaga apa lagi yang
bisa saya kerjakan kalau bukan
nyekripsi? Begitu saya
nyekrip,
lha kok batuknya hilang…
Pagi
ini tadi saya bangun dan langsung membuka media sosial, mengecek
sana-sini macam bisniswoman yang perlu kabari sana sini, padahal jomblo
pengangguran skripsi juga, siapa yg mau dikabari? Wkwk. Saat
maumelakukan sesuatu tiba-tiba
pet! Layar leppy cm gambar desktop
tanpa formasi apa2. Dipencet sana sini tidak berkutik. Akhirnya saya
matikan paksa. Begitu dinyalakan kembali, hanya layar hitam, lalu mati.
Saya coba lagi, lagi, lagi, sms tanya sana sini, coba lagi,lagi, lagi,
dan akhirnya saya cuma bisa
mewek. Saya pikir ini pasti ada yang
salah dengan laptop, bla bla bla. Lalu saya duduk, termenung di depan
laptop yang mati. Saya diam dan, “oke Tuhan, saya salah. Laptop ini mati
karena kehendakMu, saya mau saat teduh dulu.”
Biasanya
saya SaTe kalau kamar sudah bersih, jadi sy lakukanlah rutinitas pagi
hari yang tadi pagi saya lewatkan hanya untuk membuka medsos. Menyapu,
ngepel, cuci piring, basuh diri, baru duduk, diam, buka Alkitab dan
renungannya, berdoa. Saat menutup mata, saya merasa seperti Tuhan Yesus
duduk di kursi sebelah saya dan sedang melipat tangan. Dengan tatapan
mata penuh sabar, sedang tegas pada saya, dan berkata, “itu laptopmu tak
matiin dulu nduk, kamu duduk’o sini Aku mau ngomong.” Hatiku langsung
berkata, “iya Bapa. Aku mau duduk dulu, mari kita berbincang Bapa.”
Renunganku
pagi ini dari Filipi 2:13. Tuhan memberi sy penjelasan bahwa semua yg
sy lakukan itu atas kehendakNya. Pagi-pagi sy biasanya langsung
membersihkan kamar dan cuci piring yang ini tidak sy lakukan,dan malah
membuka media sosial, itu Tuhan yang berkehendak. Karena kalau
tidak,mungkin sy tidak dihukum, mungkin sy tidak disadarkan dengan
laptop yang mati mendadak, mungkin sy tidak merasa ketakutan, mungkin sy
akan asyik dengan medsos itu saja sampai siang.
Segera
setelah membaca renungannya, sy berkomitmen, dan inimasih terus
berlangsung. Yang sy minta adalah kekuatan dan kesabaran untukmenjaga
komitmen ini. Saya belajar, disinilah sy berlatih untuk menjaga
komitmen, dari hal kecil ini. Dari komitmen kecil ini Tuhan akan bimbing
dan tingkatkan komitmen sy untuk hal yang lebih besar, seperti
berpacaran mungkin (sesuai doa pergumulan tiap malam), atau bekerja,
atau melayani Dia, atau apapun. Itu yang aku percaya, dan aku belajar.
Jadi,
doa saya sebelum hal ini terjadi adalah, saya meminta mujizat Tuhan
untuk skripsi saya. Pertama-tama Tuhan menyadarkan saya bahwa mujizat
pasti akan terjadi, pasti akan Ia beri. AnakNya yang tunggal yang paling
Ia kasihi saja rela ia korbankan buat saya, apalagi mujizat untuk
skripsi! Tetapi bukan mujizat itu yang terpenting. Yang terpenting
adalah bagaimana kesiapan saya menyambut mujizat yang bisa kapan saja Ia
beri. Bagaimana persiapan saya, apa yang saya lakukan untuk menyambut
mujizat itu, seberapa
worth it usaha saya untuk mujizat itu? Itu yang terpenting.
Dan,
oh ya.. batuk tiap malam itu terjadi saat aku ketiduran mengerjakan
skripsi dan belum tuntas. Tuhan pakai batuk itu bukan untuk membuat aku
sampai mau mati, akunya aja yang lebay. Tapi batuk tiap malam itu Tuhan
pakai untuk membangunkan aku, membuatku terjaga supaya aku menuntaskan
tulisanku, karena Tuhan tahu aku masih kuat, belum waktunya tidur (masih
jam10an malam sih, hehe).
Jadiiii, kesimpulannya,
1. apa yang kau
minta dalam Tuhan, Ia pasti
akan memberi
tanpa kecuali, hanya bagaimana caraNya yang terkadang terlambat untuk
kita ketahui, namun akan membuat kita tercengang pada akhirnya.
2. seperti ayat favorit saya, Pengkhotbah 3:11, kiranya kita senantiasa
bertekun dalam setiap pekerjaan tangan Tuhan.
3.
sadari sekecil apapun
teguran yang kita rasakan dari hati, karena itu suara Roh Kudus.
4. Ia yang
memberikan AnakNya yang tunggal hanya supaya bisa terus dekat dengan kita, bagaimana mungkin tidak
memenuhi segala keinginanmu untuk terus tetap dekat padaNya?

5. kita
perlu orang lain
untuk terus mengingatkan kita pada Bapa dan komitmen-komitmen kita.
sahabat, pacar, orang tua, tetangga, semua bisa. Tentunya yang juga
takut akan Tuhan.
6.
semua orang, semua alat, semua hal, bisa dipakai Tuhan untuk
menyadarkan kita akan pekerjaan tanganNya, akan kehadiranNya bersama
kita.
Dia selalu bersama kita, kita yang kurang menyadarinya.
7.
menjaga komitmen dan relasi dengan Bapa bukanlah hal yang mudah kawan,
jika kau masih tersendat, sama, aku juga. Tapi jangan abaikan
beban-beban panggilan di pagi hari untuk
membuka Alkitabmu dan membacanya barang 10 atau 15 menit saja untuk bercakap sebentar dengan BapaMu di 1.440 menit dalam 1 harimu.
Sekian.. :) semoga sharingku bisa menjadi berkat dan aku juga semakin diberkati untuk terus menyalurkan berkatNya.
Notes ini disponsori oleh Bapa saya di Sorga. Buku renungan
The One Year Experiencing God’s Presence by Chris Tiegreen
yang diberikan secara cuma-cuma untuk saya dari Opa dan Oma yang Tuhan
pertemukan dengan saya di pesawat. Renungan ini begitu tegas dan nyata,
saya akan terus membacanya. Kedua orang tua saya yang memberi kesempatan
saya bisa pulang dan merasakan maskapai penerbangan tersebut.
Sahabat-sahabat dalam Kristus yang menjadi himpunan sayap yang Tuhan
kasih untuk saya dapat terbang dalam kemuliaan, yang tidak dapat
disebutkan satu per satu. Terimakasih, Tuhan memberkati :)