"Que Sera, Sera, a Spanish Phrase which translation is: What will be, will be." (urbandictionary.com)
"The phrase 'Que Sera, Sera' came from a movie called The Barefoot Contessa, where the character Rossano Brazzi's family motto
was 'Che Sera, Sera.' The motto in the film was Italian, but Evans and
Livingston switched the 'Che' to 'Que' because more people spoke Spanish
in the US." (songfacts.com)
"Que sera, sera, whatever will be, will be. The future's not ours to see, que sera, sera, what will be, will be" (sepenggal lirik dari lagu berjudul Que Sera, Sera)
Pernah mendengar frase ini? Atau pernah mendengar lagunya? Salah satu stasiun televisi lokal sering menayangkan sebuah iklan moral dengan menampilkan paduan suara anak usia Sekolah Dasar dengan keberagaman mereka, yang menyanyikan lagu tersebut. Saya selalu tersentuh setiap melihat tayangan tersebut baik secara tidak sengaja maupun sengaja. Berikut link video terlampir yang saya beri judul Que Sera Sera by Wonderful Children.
Hari dimana saya dengan sadar menuliskan tulisan ini, saya mengalami 2 teguran luar biasa yang saya asumsikan berasal dari Sang Pencipta. Ya, dan keduanya berasal dari orang terdekat saya sejak kecil. Yang pertama dari teman saya yang saat ini sedang menempuh studi lanjutan di luar negeri. Pernyataannya di sebuah media sosial menyadarkan saya, mau jadi apa saya, kita semua nantinya, tidak tergantung dari apa yang baik dan yang bagus yang sudah kita lakukan. Mau seperti apa mimpi kita dinyatakan, tidak tergantung dari hal-hal bagus atau hal-hal baik yang sudah kita lakukan. Kita digiring untuk memiliki impian, namun kita tidak berkuasa atas mimpi itu.
Yang kedua saya dapat dari sahabat saya sejak di bangku Sekolah Dasar. Kisah dan kepiawaiannya yang ditumpahkan dalam barisan tulisannya, membuat saya terkagum pada sosok gadis mungil ini. Ketegasan dan keberaniannya membawa perubahan, serta kerendahan hatinya untuk terus bergantung pada Sang Khalik, membuat saya juga ingin mengiblatkan taktik dalam menjalani kehidupan supaya bermakna. Kita kemudian memiliki mimpi, namun semua terjadi dalam rupa dan cara yang tak terduga.
Kedua teman saya pada akhirnya dapat meraih mimpi dan harapan mereka di usia muda, dimana keduanya pasti akan meninggalkan jejak yang dalam dan tergores begitu rupa. Jejak yang takkan mungkin dilupa meski waktu menelan. Saya kemudian bertanya, "kapan saya digiring untuk satu mimpi yang, paling tidak, bisa membuat saya terbangun dan menyadari bahwa itu tak hanya sekedar mimpi?" Saya terlalu banyak bermimpi, sampai-sampai saya terlupa bahwa saya kebanyakan hidup di dalam mimpi-saya malas bangun.
Saya percaya, seseorang takkan bermimpi tanpa tuntunan Tuhan yang terencana sempurna. Kita dapat berkata, "aku ingin jadi Duta Besar! Aku ingin jadi Pejabat! Aku ingin jadi Pemimpin Negri!" tanpa tahu apa yang sebenarnya harus terjadi segera, bahkan, setelah kita menyerukannya dengan tekad bulat untuk mewujudkannya. Sudah barang tentu, bukan kapasitas kita untuk melihat apa yang akan terjadi pada masa depan kita. Semua kembali pada Sang Pemilik Kehidupan. Akan tetapi, mimpi perlu kita sadari sebagai sesuatu yang tidak realistis, untuk menggiring sesuatu yang tidak realistis, kita perlu usaha yang tidak realistis.
Saya pernah, dan sampai sekarang masih, bermimpi menjadi penulis dongeng anak-anak yang terkenal. Ketika usaha saya masih realistis, maka saya tidak akan pernah menjadikan mimpi saya menjadi sesuatu yang real. Saya selalu ingin skripsi saya dipakai sampai keluar negri, namun usaha saya masih realistis, sehingga saat ini saya masih belum mampu mewujudkannya. Saya selalu ingin bisa melanjutkan studi di tanah Ratu Elisabeth, Inggris, tetapi usaha saya masih realistis. Maka saya belum dapat mewujudkan semuanya!
Usaha yang realistis bagi saya, adalah seperti usaha yang seharusnya dilakukan. Menuliskan dongeng-dongeng, mengerjakan skripsi, berlatih bahasa Inggris, saya sadari masih usaha yang realistis. Usaha yang tidak realistis bagi saya, adalah seperti usaha yang bila perlu, lakukan. Mempublikasikan dongeng saya ke media yang ada, jadikan skripsi masuk menjadi jurnal nasional -bila perlu internasional-, dan kejar beasiswa serta berlatih menulis beberapa penelitian ilmiah setara taraf internasional, adalah beberapa usaha yang, mungkin sulit, namun-bila perlu, lakukan. Niscaya, saya percaya, walaupun mimpi itu tidak 100% terjadi sama seperti mimpi itu sendiri, at least mimpi itu bisa saya giring untuk keluar dari alam mimpi belaka.
Jadi -kembali pada frase di atas-, "apapun yang akan terjadi, terjadilah" akan menjadi suatu bentuk kepasrahan yang pasif, bukan aktif. Kita perlu percaya bahwa kita akan mendapatkan apa yang kita impikan. "Arep dadi opo?" bukanlah sekedar pertanyaan yang bisa dijawab dengan tundukan kepala, namun dengan suara lantang, berteriak memastikan apa mimpi yang akan terjadi selanjutnya. Tentu Tuhan dengan caraNya yang Ajaib, memampukan kita berkarya dan meninggalkan jejak yang terarah kepadaNya untuk dapat diikuti orang lain.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Apa pun yang akan terjadi, terjadilah. Lagunya sering diputar dulu, ga tahu deh setelah tv itu ganti nama sekarang.
BalasHapus