Senin, 13 Oktober 2014

Negeri di Awan

oleh Katon Bagaskara


Di bayang wajahmu 
Kutemukan kasih dan hidup 
Yang lama lelah aku cari 
Dimasa lalu
Kau datang padaku 
Kau tawarkan hati nan lugu 
Selalu mencoba mengerti 
Hasrat dalam diri

Kau mainkan untukku 
Sebuah lagu tentang negeri di awan
Dimana kedamaian menjadi istananya 
Dan kini tengah kaubawa 
Aku menuju kesana

Ternyata hatimu 
Penuh dengan bahasa kasih 
Yang terungkapkan dengan pasti 
Dalam suka dan sedih

selain lagu berjudul "Usah Kau Lara Sendiri" yang menjadi favorit saya karena lirik yang sederhana namun terasa hangat memeluk, satu lagu dari Katon Bagaskara ini juga menyentuh hati saya. sebuah lagu dengan lirik sederhana namun mengungkap hati yang sangat bahagia kala menemukan seorang pasangan hidup sejati yang tepat. sebuah kerinduan yang masih belum saya dapatkan jawabannya hingga kini.

saya menonton Kick Andy 28 maret 2014, dimana seorang gadis cilik tuna netra menyanyikan lagu ini dengan style berbeda. saya mendengar dengan setetes air jatuh dari mata. lagu ini begitu syahdu ia nyanyikan (check out by this site http://www.youtube.com/watch?v=OnUqFBSJNMQ). beberapa perasaan merasuk hati saya, sesak mendengarnya. entah mengapa.

Sabtu lalu sahabat saya sedari kecil, Putri, melangsungkan pernihakan suci. saya tak habis pikir dan hanya dapat berterimakasih pada sang Pembuat Skenario, bagaimana saya bisa berada di Pekanbaru, kota dimana sahabat saya melangsungkan pernikahan, tepat seminggu sebelum acara. sebelumnya saya sudah pesimis dapat hadir dalam acara sakral ini karena saya masih di Surabaya, tp ternyata bukan hanya hadir, saya bahkan ikut terlibat sebagai pendamping pengantin. what a lovely :*

saya telah mengikuti beberapa pemberkatan nikah dan resepsi adat. salah duanya adalah sepupu saya, dan dalam acara keduanya saya ikut terharu saat sesi sungkeman. saya sudah antisipasi dengan membawa tisu yang banyak saat ibadah pemberkatan nikah sahabat saya ini. ternyata ibadah berlangsung hikmat dan syahdu, sehingga belum ada air mata yang menetes saat pemberkatan.

usai pemberkatan di gereja, kami beralih menuju gedung resepsi, dimana kami tentunya akan lebih berbahagia dan bersukacita di gedung karena disanalah kami akan berpesta. nyatanya disinilah air mata kecil-kecil membasahi pipi, saat prosesi adat dilangsungkan diiringi sajak dan prolog berbahasa jawa yang khas oleh sesepuh yang mengiringi jalannya acara. saat sahabat saya digiring oleh pakde (panggilan saya thd papanya Putri), menuju panggung tempat pengantin putri dan kakung bertahta. saat sahabat saya dan suaminya sungkem dengan kedua pihak orang tua. saat sahabat saya duduk dengan sang suami di tahta pengantin putri dan kakung. saya senyum dari jauh, sambil air mata tak tahan untuk keluar. banyak perasaan bercampur, dan membuat dada sesak, terharu.

ketika ada kesempatan bagi saya untuk memberikan suara terbaik yang bisa saya beri bagi sahabat saya, saya maju dan menyanyikan lagu ini diiringi adik terkasih. lagu ini selalu membuat saya haru, entah mengapa, bahkan saat latihan di rumah bersama adik saya, rasanyapun ingin menangis. tak pernah suara saya tak bergetar saat menyanyikan lagu ini, terlebih saat di panggung. saya sudah antisipasi untuk tidak cengeng di panggung, tapi semua tak dapat ditahan. boro-boro menyanyi dengan merdu dan indah, yang ada suara saya jadi fals dan bergetar saat menyanyi. sambil sekali mengusap mata dan mengipas2 mata berharap air yang keluar segera mengering tanpa perlu jatuh. sahabat saya, di depan sana, sudah dipersunting orang, percaya tidak percaya rasanya. tapi di akhir saya dapat menyanyikan kembali dengan lebih baik, dan menuntaskannya.

sahabat kecil yang dulu selalu tidur berdua, saling menginap (dimana kebanyakan saya yang menginap di rumahnya), main sepeda sampai hitam legam yang tak pernah kami permasalahkan, berseluncur di kamar mandi yang licin karena kami penuhi dengan sabun, berkali-kali melewatkan liburan bersama ke Sumbar dan mengunjungi sanak keluarganya, dan begitu banyak memori lain, seakan tumpah saat itu melalui iringan lagu ini (bahkan saat saya mengetik ini, mata saya masih berkaca-kaca). dia masih sahabat saya, masih menjadi 'mbak' bagi saya, masih sahabat kecil saya, masih Putri Kristianningrum saya. dan lagu ini, masih menjadi lagu paling romantis yang akan saya nyanyikan kembali kelak, saat saya berada di panggung pengantin putri dan kakung saya sendiri.

Selasa, 11 Februari 2014

Que Sera Sera

"Que Sera, Sera, a Spanish Phrase which translation is: What will be, will be." (urbandictionary.com)

"The phrase 'Que Sera, Sera' came from a movie called The Barefoot Contessa, where the character Rossano Brazzi's family motto was 'Che Sera, Sera.' The motto in the film was Italian, but Evans and Livingston switched the 'Che' to 'Que' because more people spoke Spanish in the US." (songfacts.com)

"Que sera, sera, whatever will be, will be. The future's not ours to see, que sera, sera, what will be, will be" (sepenggal lirik dari lagu berjudul Que Sera, Sera)

Pernah mendengar frase ini? Atau pernah mendengar lagunya?  Salah satu stasiun televisi lokal sering menayangkan sebuah iklan moral dengan menampilkan paduan suara anak usia Sekolah Dasar dengan keberagaman mereka, yang menyanyikan lagu tersebut. Saya selalu tersentuh setiap melihat tayangan tersebut baik secara tidak sengaja maupun sengaja. Berikut link video terlampir yang saya beri judul Que Sera Sera by Wonderful Children.

Hari dimana saya dengan sadar menuliskan tulisan ini, saya mengalami 2 teguran luar biasa yang saya asumsikan berasal dari Sang Pencipta. Ya, dan keduanya berasal dari orang terdekat saya sejak kecil. Yang pertama dari teman saya yang saat ini sedang menempuh studi lanjutan di luar negeri. Pernyataannya di sebuah media sosial menyadarkan saya, mau jadi apa saya, kita semua nantinya, tidak tergantung dari apa yang baik dan yang bagus yang sudah kita lakukan. Mau seperti apa mimpi kita dinyatakan, tidak tergantung dari hal-hal bagus atau hal-hal baik yang sudah kita lakukan. Kita digiring untuk memiliki impian, namun kita tidak berkuasa atas mimpi itu.

Yang kedua saya dapat dari sahabat saya sejak di bangku Sekolah Dasar. Kisah dan kepiawaiannya yang ditumpahkan dalam barisan tulisannya, membuat saya terkagum pada sosok gadis mungil ini. Ketegasan dan keberaniannya membawa perubahan, serta kerendahan hatinya untuk terus bergantung pada Sang Khalik, membuat saya juga ingin mengiblatkan taktik dalam menjalani kehidupan supaya bermakna. Kita kemudian memiliki mimpi, namun semua terjadi dalam rupa dan cara yang tak terduga.

Kedua teman saya pada akhirnya dapat meraih mimpi dan harapan mereka di usia muda, dimana keduanya pasti akan meninggalkan jejak yang dalam dan tergores begitu rupa. Jejak yang takkan mungkin dilupa meski waktu menelan. Saya kemudian bertanya, "kapan saya digiring untuk satu mimpi yang, paling tidak, bisa membuat saya terbangun dan menyadari bahwa itu tak hanya sekedar mimpi?" Saya terlalu banyak bermimpi, sampai-sampai saya terlupa bahwa saya kebanyakan hidup di dalam mimpi-saya malas bangun.

Saya percaya, seseorang takkan bermimpi tanpa tuntunan Tuhan yang terencana sempurna. Kita dapat berkata, "aku ingin jadi Duta Besar! Aku ingin jadi Pejabat! Aku ingin jadi Pemimpin Negri!" tanpa tahu apa yang sebenarnya harus terjadi segera, bahkan, setelah kita menyerukannya dengan tekad bulat untuk mewujudkannya. Sudah barang tentu, bukan kapasitas kita untuk melihat apa yang akan terjadi pada masa depan kita. Semua kembali pada Sang Pemilik Kehidupan. Akan tetapi, mimpi perlu kita sadari sebagai sesuatu yang tidak realistis, untuk menggiring sesuatu yang tidak realistis, kita perlu usaha yang tidak realistis.

Saya pernah, dan sampai sekarang masih, bermimpi menjadi penulis dongeng anak-anak yang terkenal. Ketika usaha saya masih realistis, maka saya tidak akan pernah menjadikan mimpi saya menjadi sesuatu yang real. Saya selalu ingin skripsi saya dipakai sampai keluar negri, namun usaha saya masih realistis, sehingga saat ini saya masih belum mampu mewujudkannya. Saya selalu ingin bisa melanjutkan studi di tanah Ratu Elisabeth, Inggris, tetapi usaha saya masih realistis. Maka saya belum dapat mewujudkan semuanya!

Usaha yang realistis bagi saya, adalah seperti usaha yang seharusnya dilakukan. Menuliskan dongeng-dongeng, mengerjakan skripsi, berlatih bahasa Inggris, saya sadari masih usaha yang realistis. Usaha yang tidak realistis bagi saya, adalah seperti usaha yang bila perlu, lakukan. Mempublikasikan dongeng saya ke media yang ada, jadikan skripsi masuk menjadi jurnal nasional -bila perlu internasional-, dan kejar beasiswa serta berlatih menulis beberapa penelitian ilmiah setara taraf internasional, adalah beberapa usaha yang, mungkin sulit, namun-bila perlu, lakukan. Niscaya, saya percaya, walaupun mimpi itu tidak 100% terjadi sama seperti mimpi itu sendiri, at least mimpi itu bisa saya giring untuk keluar dari alam mimpi belaka.

Jadi -kembali pada frase di atas-, "apapun yang akan terjadi, terjadilah" akan menjadi suatu bentuk kepasrahan yang pasif, bukan aktif. Kita perlu percaya bahwa kita akan mendapatkan apa yang kita impikan. "Arep dadi opo?" bukanlah sekedar pertanyaan yang bisa dijawab dengan tundukan kepala, namun dengan suara lantang, berteriak memastikan apa mimpi yang akan terjadi selanjutnya. Tentu Tuhan dengan caraNya yang Ajaib, memampukan kita berkarya dan meninggalkan jejak yang terarah kepadaNya untuk dapat diikuti orang lain.

Kamis, 30 Januari 2014

berkat Tuhan itu seperti...

Hai..
Kawan, pernahkah kau mengalami tingkah laku Tuhan dalam hidupmu? Aku baru saja menyadarinya akhir2 ini. malahan kupikir aku telat menyadarinya.

Semua berawal dari kisah awal tahun yang begitu mengesankan. Seolah Tuhan benar-benar pegel dan ingin turun tangan langsung untuk menyentil anak gadisnya yang bandel ini. hihihi. Iya, saya bandel. Selama pulang ke rumah, dalam hitungan 14 hari, mungkin hanya 2 hari saja saya benar-benar saat teduh. Oh, 3! 3 kali. Yang terakhir saya lakukan bersama sahabat saya dan keluarganya, keluarga saya juga :)

Dari sebuah pengalaman luar biasa menaiki maskapai penerbangan nomor satu di Indonesia dalam perjalanan kembali dari Pekanbaru (rumah tempat saya tinggal hampir seumur hidup) menuju Surabaya (tempat saya merantau yang sebetulnya adalah kampung halaman saya sendiri. Ah.. ya begitulah). Dalam perjalanan dari Jakarta (transit) hingga Surabaya, saya dipertemukan Tuhan dengan sepasang opa oma yang memang rutin melakukan perjalanan Jakarta-Surabaya, selain untuk pelayanan, juga karena anak bungsu mereka sudah tinggal menetap di Jakarta. Kami bercakap dan sharing dalam suasana yang hangat, terlebih setelah kami tahu bahwa kami sama-sama percaya Kristus, dan banyak hal lain yang membuat kami sama, termasuk bahwa kami sama-sama bergereja di GKI (beliau GKI Diponegoro dan saya GKI Ressud). Saya pikir hal inilah yang mengunci keclickan saya dengan beliau.

Sepanjang 45-55 menit kami bercakap dalam pesawat, tibalah kami di Surabaya nan terik namun mendung saat itu, 4 Januari 2014, pukul 12.45. Berawal dari pertanyaan hangat yang menanyakan bagaimana saya kembali ke kosdengan jawaban saya yang (mungkin bagi mereka) cukup kasihan, saya kemudian ditawari untuk diantar oleh beliau. Awalnya saya menolak, akan tetapi beliau terus mengajak dan terus berusaha membuat saya menurunkan kesungkanan saya dengan mengatakan “tak apa, yang antar kan supir saya”, akhirnya saya ikut pulang dengan tujuan diantar sampai TP supaya saya bisa menyambung taksi ke kosdgn ongkos lebih irit. Rencana berubah saat lingkaran angka waktu mampir padapukul 13.15. Karena beliau ternyata ada janji di rumah, saya diajak beliauuntuk ikut ke rumahnya dulu, kemudian akan diantarkan supir lagi sekalian antar barang pesanan ke daerah Arjuno (saya kurang tau dimana itu).

Saya menurut, karena saya menumpang. Setibanya di rumah beliau di Surabaya Barat, terus terang saya agak takjub dengan kondisinya. Keluarga ini begitu diberkati melimpah, tetapi kesederhanaan dan kebaikan hati mereka yang menyentuh sampai saya, membuat saya tidak menyangka bahwa orang seperti mereka akan begitu baik pada saya yang baru 2-3 jam lalu mereka kenal di dalam pesawat, seorang gadis dengan pasangan ngumbel yang baru mereka lihat 2-3 jam lalu di pesawat. Well, saya takjub. Belum cukup, saya dibuat takjub lagi. Saya disuguhi minuman mahal oleh mereka. Minuman coklat Swiss asli yang bagi seorang anak kos pas-pasan itu sudah mewah. Belum lagi saya disangoni beberapa banyak bungkus Oats dan 1 benda ajaib yang ini sangat luar biasa, Buku Renungan untuk 1 tahun!!
MEEEENNN!!! Siapa yg gak klepek2 sama Papi Je kalo kayak gini?

Selanjutnya, saya pulang. Ditambah lagi, saya diantar sampai kos ternyata. Karena opa tadi menanyakan kos saya dimana, dan ternyata tidak terlalu jauh dengan TP, jadi sekalian saja diantar sampai kos. Saya tak berhenti mengucapkan banyak terima kasih untuk opa dan oma tersebut, dan terlebih kepada Bapa saya, Tuhan Yesus saya, untuk 1 hari luar biasa bagi saya.

Doa saya sebelumnya sehingga hal ini terjadi yaitu saya rindu supaya saya bisa memiliki relasi yang lebih dekat dengan Tuhan. Saya mau kembali bertekun dalam waktu teduh. Tetapi ternyata Ia jaaauuh lebih rindu pada saya, dan bahkan menyediakan sarana secara cuma-cuma supaya saya bisa lebih dekat dengannya. Ia sampai merayu saya dengan sebuah buku renungan untuk setahun, dan inilah yang Tuhan kerjakan secara nyata bagi saya.

Cerita kedua.
Ceritanya banyak meen, gue rapel aja. Hihi


Pernahkan kawan, kau merasa bahwa Tuhan Yesus begitu dekat denganmu, di sebelahmu, sedang duduk bersamamu, sedang ikut menemanimu saat kau memasak, saat kau mencuci bajumu, menjemur, menyapu, bepergian, menonton, atau apa saja dalam hidupmu? Saya baru-baru ini belajar lagi untuk merasakan Tuhan secara lebih nyata dalam kehidupan saya.

Ini adalah minggu-minggu berat bagi saya dan momongan saya, skripsi. Sudah setahun saya membesarkannya, namun belum juga ia mau lepas dari saya. Saya harus membentuknya sedemikian rupa supaya ia bisa lepas dari saya, mandiri, dan… yudadababaiiii…. Alhasil saya masih terus berkutat dengan benda keramat tersebut (keramat, soalnya kalo gak ada ini gak bisa lulus men). Dan bulan-bulan ini saya mengejar sebisa saya untuk membuat kemajuan berarti. Akan tetapi namanya manusia, jenuh, kantuk, malas, dan bla bla bla itu selalu menghiasi perilaku mereka.

Beberapa malam belakangan, saya kalau tidur sembarangan (maksudnya tidur asal nggeletak dikasur, bukan tidur sembarangan depan rumah oraaanggg.. woooo), tiba-tiba saya bisa batuk sampai nggogok, batuk yang dalam dan sulit berhenti, lalu jantung berdetak sangat kuat dan cepat, disertai tangan tremor dan ujung jari yang dingin. Saya pikir, saya hampir mati Tuhan. Saya coba tidur lagi, batuk lagi, begitu terus sampai akhirnya saya terjaga. Kalau sudah terjaga apa lagi yang bisa saya kerjakan kalau bukan nyekripsi? Begitu saya nyekrip, lha kok batuknya hilang…

Pagi ini tadi saya bangun dan langsung membuka media sosial, mengecek sana-sini macam bisniswoman yang perlu kabari sana sini, padahal jomblo pengangguran skripsi juga, siapa yg mau dikabari? Wkwk. Saat maumelakukan sesuatu tiba-tiba pet! Layar leppy cm gambar desktop tanpa formasi apa2. Dipencet sana sini tidak berkutik. Akhirnya saya matikan paksa. Begitu dinyalakan kembali, hanya layar hitam, lalu mati. Saya coba lagi, lagi, lagi, sms tanya sana sini, coba lagi,lagi, lagi, dan akhirnya saya cuma bisa mewek. Saya pikir ini pasti ada yang salah dengan laptop, bla bla bla. Lalu saya duduk, termenung di depan laptop yang mati. Saya diam dan, “oke Tuhan, saya salah. Laptop ini mati karena kehendakMu, saya mau saat teduh dulu.”

Biasanya saya SaTe kalau kamar sudah bersih, jadi sy lakukanlah rutinitas pagi hari yang tadi pagi saya lewatkan hanya untuk membuka medsos. Menyapu, ngepel, cuci piring, basuh diri, baru duduk, diam, buka Alkitab dan renungannya, berdoa. Saat menutup mata, saya merasa seperti Tuhan Yesus duduk di kursi sebelah saya dan sedang melipat tangan. Dengan tatapan mata penuh sabar, sedang tegas pada saya, dan berkata, “itu laptopmu tak matiin dulu nduk, kamu duduk’o sini Aku mau ngomong.” Hatiku langsung berkata, “iya Bapa. Aku mau duduk dulu, mari kita berbincang Bapa.”

Renunganku pagi ini dari Filipi 2:13. Tuhan memberi sy penjelasan bahwa semua yg sy lakukan itu atas kehendakNya. Pagi-pagi sy biasanya langsung membersihkan kamar dan cuci piring yang ini tidak sy lakukan,dan malah membuka media sosial, itu Tuhan yang berkehendak. Karena kalau tidak,mungkin sy tidak dihukum, mungkin sy tidak disadarkan dengan laptop yang mati mendadak, mungkin sy tidak merasa ketakutan, mungkin sy akan asyik dengan medsos itu saja sampai siang.

Segera setelah membaca renungannya, sy berkomitmen, dan inimasih terus berlangsung. Yang sy minta adalah kekuatan dan kesabaran untukmenjaga komitmen ini. Saya belajar, disinilah sy berlatih untuk menjaga komitmen, dari hal kecil ini. Dari komitmen kecil ini Tuhan akan bimbing dan tingkatkan komitmen sy untuk hal yang lebih besar, seperti berpacaran mungkin (sesuai doa pergumulan tiap malam), atau bekerja, atau melayani Dia, atau apapun. Itu yang aku percaya, dan aku belajar.

Jadi, doa saya sebelum hal ini terjadi adalah, saya meminta mujizat Tuhan untuk skripsi saya. Pertama-tama Tuhan menyadarkan saya bahwa mujizat pasti akan terjadi, pasti akan Ia beri. AnakNya yang tunggal yang paling Ia kasihi saja rela ia korbankan buat saya, apalagi mujizat untuk skripsi! Tetapi bukan mujizat itu yang terpenting. Yang terpenting adalah bagaimana kesiapan saya menyambut mujizat yang bisa kapan saja Ia beri. Bagaimana persiapan saya, apa yang saya lakukan untuk menyambut mujizat itu, seberapa worth it  usaha saya untuk mujizat itu? Itu yang terpenting.

Dan, oh ya.. batuk tiap malam itu terjadi saat aku ketiduran mengerjakan skripsi dan belum tuntas. Tuhan pakai batuk itu bukan untuk membuat aku sampai mau mati, akunya aja yang lebay. Tapi batuk tiap malam itu Tuhan pakai untuk membangunkan aku, membuatku terjaga supaya aku menuntaskan tulisanku, karena Tuhan tahu aku masih kuat, belum waktunya tidur (masih jam10an malam sih, hehe).

Jadiiii, kesimpulannya,
1. apa yang kau minta dalam Tuhan, Ia pasti akan memberi tanpa kecuali, hanya bagaimana caraNya yang terkadang terlambat untuk kita ketahui, namun akan membuat kita tercengang pada akhirnya.
2. seperti ayat favorit saya, Pengkhotbah 3:11, kiranya kita senantiasa bertekun dalam setiap pekerjaan tangan Tuhan.
3. sadari sekecil apapun teguran yang kita rasakan dari hati, karena itu suara Roh Kudus.
4. Ia yang memberikan AnakNya yang tunggal hanya supaya bisa terus dekat dengan kita, bagaimana mungkin tidak memenuhi segala keinginanmu untuk terus tetap dekat padaNya?
5. kita perlu orang lain untuk terus mengingatkan kita pada Bapa dan komitmen-komitmen kita. sahabat, pacar, orang tua, tetangga, semua bisa. Tentunya yang juga takut akan Tuhan.
6. semua orang, semua alat, semua hal, bisa dipakai Tuhan untuk menyadarkan kita akan pekerjaan tanganNya, akan kehadiranNya bersama kita. Dia selalu bersama kita, kita yang kurang menyadarinya.
7. menjaga komitmen dan relasi dengan Bapa bukanlah hal yang mudah kawan, jika kau masih tersendat, sama, aku juga. Tapi jangan abaikan beban-beban panggilan di pagi hari untuk membuka Alkitabmu dan membacanya barang 10 atau 15 menit saja untuk bercakap sebentar dengan BapaMu di 1.440 menit dalam 1 harimu.

Sekian.. :) semoga sharingku bisa menjadi berkat dan aku juga semakin diberkati untuk terus menyalurkan berkatNya.

Notes ini disponsori oleh Bapa saya di Sorga. Buku renungan The One Year Experiencing God’s Presence by Chris Tiegreen yang diberikan secara cuma-cuma untuk saya dari Opa dan Oma yang Tuhan pertemukan dengan saya di pesawat. Renungan ini begitu tegas dan nyata, saya akan terus membacanya. Kedua orang tua saya yang memberi kesempatan saya bisa pulang dan merasakan maskapai penerbangan tersebut. Sahabat-sahabat dalam Kristus yang menjadi himpunan sayap yang Tuhan kasih untuk saya dapat terbang dalam kemuliaan, yang tidak dapat disebutkan satu per satu. Terimakasih, Tuhan memberkati :)

Sabtu, 04 Januari 2014

pratulis

sebuah tanda yang terbuat dari hasil bekerja tangan. tanda bahwa saya ada, dan akan terus ada.
- 4 Januari 2013 -